Link ke detik.com
http://www.detiknews.com/indexfr.php?url=http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2008/bulan/05/tgl/21/time/143430/idnews/942590/idkanal/10
Link ke detik.com
http://www.detiknews.com/indexfr.php?url=http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2008/bulan/05/tgl/21/time/143430/idnews/942590/idkanal/10
SOURCE: SUARA PEMBARUAN DAILY (http://suarapembaruan.com/News/2008/04/09/index.html)
[JAKARTA] Setiap kawasan perumahan, kawasan industri dan perdagangan diwajibkan memiliki instalasi pemilihan sampah. Jika tidak, pemerintah akan memberikan sanksi yang keras baik berupa sanksi administratif maupun pidana bagi yang melanggar.
Ketentuan berupa jenis sanksi akan ditetapkan dalam peraturan pemerintah maupun peraturan daerah. Kewajiban warga negara di atas tersebut menjadi salah satu bagian dari Rancangan Undang-Undang Pengelolaan Sampah (RUU Sampah) yang hari ini disetujui DPR dalam rapat paripurna menjadi menjadi UU.
Asisten Deputi 4/II Kementerian Lingkungan Hidup yang membidangi Pengelolaan Sampah, Tri Bangun L Sony, di Jakarta, Rabu (9/4), mengaku lega dengan selesainya proses pembahasan RUU Sampah. Berdasarkan informasi yang diperoleh, pembahasan RUU Sampah ini baru selesai dibahas antara pemerintah dan DPR, Selasa (8/4) malam.
Menurut Sony, dengan adanya UU Sampah ini, setiap warga negara, dan kalangan industri bisa mengerti dan memahami hak dan kewajibannya dalam hal pengelolaan sampah. Selain membahas mengenai sampah domestik atau rumah tangga, UU Sampah ini juga mengatur tentang impor sampah. Jika melanggar, impor sampah ini bisa dikenai sanksi pidana yang jelas.
Perubahan Sikap
Wakil Ketua Komisi VII DPR, Sony Keraf, mengatakan, meskipun Indonesia saat ini sudah memiliki UU Sampah, tetapi jangan terlalu berharap terjadi perubahan drastis dalam implementasi di lapangan. Perubahan sikap itu adalah masalah mental. Untuk memperbaiki mental perlu waktu yang lama.
Dia mengatakan, saat ini banyak penanggungjawab kompleks perumahan tidak melakukan kewajibannya untuk menyediakan sarana pemilahan dan penampungan sampah. Dengan adanya UU yang baru disahkan ini, dia berharap para pengembang dapat mematuhi aturan pemerintah guna menciptakan lingkungan yang lebih sehat.
Anggota DPR dari Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (FPDI-P) ini meminta agar semua pihak melihat permasalahan sampah yang ada saat ini sebagai persoalan yang serius. Dan masyarakat Indonesia, kata Sony, belum sampai pada level tertib dalam mengelola sampah.
Sedangkan, anggota komisi VII dari Fraksi Partai Damai Sejahtera (FPDS), Hasurungan Simamora, menilai pengelolaan sampah tidak bisa ditangani secara parsial mengingat kompleksitas permasalahan yang dihadapi. “Sosialisasi dan pengondisian UU Sampah ini perlu dilakukan agar UU yang ada tidak hanya sekadar macan kertas,” katanya. [E-7]
![]() |
|
AP Photo/National Snow and Ice Data Center / Kompas Images
Foto satelit yang dirilis oleh National Snow and Ice Data Center di University of Colorado di Boulder ini memperlihatkan bongkahan pada beting es Wilkins tanggal 6 Maret 2008 di Semenanjung Antartika barat daya yang mulai terlepas. Beting es berukuran tujuh kali wilayah Manhattan itu mulai lepas dan ambruk pada 28 Februari lalu. |
Kompas: Kamis, 27 Maret 2008Washington, Rabu – Sebongkah es dari Antartika yang besarnya setara dengan tujuh kali luas Manhattan tiba-tiba longsor. Kejadian ini membuat sisa es yang lebih besar akan berisiko longsor pula. Demikian disampaikan para ilmuwan di Washington, Amerika Serikat, Rabu (26/3).
Citra dari satelit menunjukkan bongkahan yang terlepas berukuran 160 mil persegi atau 414,4 kilometer persegi dan sudah mulai runtuh pada 28 Februari lalu. Bongkahan itu merupakan tepian dari beting es Wilkins yang telah ada di sana sejak ribuan tahun, mungkin 1.500 tahun yang lalu. Beting es Wilkins merupakan hamparan es yang secara permanen terapung. Jaraknya sekitar 1.609 kilometer sebelah selatan Amerika utara, di barat daya Semenanjung Antartika.
”Peristiwa ini jelas merupakan dampak dari pemanasan global,” ujar David Vaughan dari British Antarctic Survey.
Karena para ilmuwan menerima citra dari satelit itu dalam hitungan jam, mereka segera mengalihkan kamera satelit, bahkan tidak sedikit yang segera terbang ke atas bongkahan yang longsor untuk mengambil gambar foto dan video.
Akibat longsor ini, sebagian besar beting yang luasnya sekitar 12.950 kilometer persegi kemudian hanya ditopang oleh bentangan es kecil yang panjangnya hanya 5,6 kilometer. Es penopang ini berada di antara dua pulau.
”Ini merupakan peristiwa yang tidak sering terjadi,” ujar Ted Scambos, ilmuwan yang memimpin tim riset dari National Snow and Ice Data Center di Boulder, Colorado.
”Jika ada sedikit saja guncangan, penopang ini akan longsor juga dan tampaknya kita akan kehilangan separuh dari total area es dalam waktu beberapa tahun saja,” ujar Scambos.
Scambos mengatakan, beting es telah berada di tempatnya selama ratusan tahun, tetapi udara yang hangat dan paparan ombak membuatnya terbelah-belah.
Selama setengah abad ini, Semenanjung Atlantik telah menjadi hangat lebih cepat dibandingkan dengan bagian lain di muka bumi ini.
”Pemanasan yang terjadi di semenanjung itu sangatlah jelas terkait dengan kenaikan gas rumah kaca serta perubahan yang terjadi di sekitar kawasan Antartika,” ujar Scambos.
Seperti dibom
Walaupun gunung es secara alamiah kadang memang longsor dari gunung utama, kejadian longsor semacam ini sangat tidak biasa, tetapi terjadi lebih sering dalam dekade belakangan ini, jelas Vaughan. Longsornya bongkahan es itu sama seperti yang terjadi ketika sebuah gelas kaca dihantam palu dengan keras, katanya lagi.
Jim Elliot yang turut di pesawat Twin Otter yang membawa tim British Antarctic Survey menggambarkan, keadaan setelah longsor sangat berantakan seperti habis dibom.
”Saya tidak pernah melihat kerusakan seperti ini, sangat menakutkan. Kami terbang di atas pecahan utama dan memerhatikan pergerakan pecahan terjal akibat dari longsoran itu. Bongkahan es ada yang setara dengan rumah kecil, tampak terlihat telah terlempar. Seperti telah terjadi ledakan bom,” katanya.
Sisa beting es Wilkins yang kira-kira sama besarnya dengan Connecticut masih bertahan pada lapisan es yang tipis. Para ilmuwan khawatir kelak akan lebih banyak lagi bongkahan es yang akan longsor.
Vaughan memperkirakan beting es Wilkins akan longsor semuanya dalam waktu 15 tahun dari sekarang. Bongkahan yang baru saja longsor sekitar 4 persen dari seluruh beting yang ada. Bagian itu merupakan bagian yang penting karena dapat menyebabkan bagian lain ikut longsor.
Masih ada kesempatan bagi sisa bongkahan agar dapat tetap selamat hingga tahun depan karena saat ini merupakan akhir dari musim panas di Antartika. Udara dingin akan segera datang dan menyelamatkan sisa bongkahan es, kata Vaughan.
Para ilmuwan itu tidak mengkhawatirkan kenaikan permukaan laut akibat kejadian ini, tetapi mengatakan bahwa kejadian itu merupakan pertanda pemanasan global semakin menjadi-jadi.
Perubahan iklim
Vaughan mengatakan, beting es Wilkins terpecah dan tidak akan memengaruhi permukaan air laut ketika longsor.
Selama setengah abad ini Semenanjung Antartika di sebelah barat telah mengalami perubahan temperatur yang paling tinggi. sekitar 0,5 derajat Celsius per dekade. Iklim di Antartika saat ini sangat rumit dan lebih terisolasi dari bagian lain di bumi ini.
Menurut perhitungan para ahli, kenaikan permukaan laut per meter sekitar 3 milimeter per tahun dan pada akhir abad ini permukaan air laut akan naik hingga 1,4 meter.
Kejadian longsor es itu merupakan indikasi akan penyebab adanya perubahan dalam sistem iklim, kata Sarah Das, ilmuwan dari Woods Hole Oceanographic Institute.
”Sekali meleleh, bongkahan es itu akan lenyap untuk selamanya,” ujar Das. (AP/AFP/REUTERS/JOE)
| 27/03/2008 05:28:18 YOGYA (KR) - Jika sebelumnya bukan merupakan kewajiban, saat ini warga Kota Yogyakarta yang huniannya dilalui jaringan air limbah domestik terpusat akan diwajibkan untuk menyambung ke jaringan tersebut. Aturan ini diterapkan, salah satunya mengingat kondisi air tanah di Kota Yogya sudah diambang jelek, di mana 80 persennya sudah tercemar bakteri Coli. “Makanya untuk melindungi dan tidak memperparah kondisi air tanah, sehingga kebutuhan air bersih sekaligus pelestarian lingkungan bisa terpenuhi, dibuatkan aturan baru tentang Pengelolaan Air Limbah Domestik. Raperda mengenai hal ini, sudah masuk ke dewan dan masih dalam pembahasan. Apalagi Perda lama, yaitu Perda Nomor 9 Tahun 1991 tentang Pemeliharaan Assainering sudah tidak sesuai lagi dengan kondisi saat ini,” tandas Ika Rostika, Kabid Pengelolaan Lingkungan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Yogyakarta bersama Suyana (Kabid Kebersihan) serta Budi Raharjo (Kabid Alat Perbekalan dan Retribusi) di Balaikota, Rabu (26/3). Dikatakan, dalam revisi tersebut, nantinya tarif langganan perbulan juga akan naik. Karena di Perda lama, dipatok tarif rumah tangga hanya sebesar Rp 500. “Kalau dengan retribusi sebesar itu, dengan 10.085 wajib retribusi (WR) yang saat ini menggunakan jaringan limbah domestik, hanya akan diperoleh pendapatan Rp 105 juta. Padahal biaya pemeliharaan jaringan setiap tahunnya cukup besar mencapai Rp 1,4 miliar,” jelas Budi. Untuk itu, jika Raperda tersebut telah disetujui, retribusi untuk rumah tangga yang bangunannya di bawah 100 meter persegi dengan penghuni 1-5 jiwa akan dikenai pungutan Rp 3 ribu perbulan. Sedangkan tarif tertinggi dipatok Rp 110 ribu. Dengan patokan angka-angka tersebut, diharapkan seluruh pembiayaan penyelenggaraan jasa pengelolaan limbah di kota bisa terkaver. (Ret)-f Budi menjelaskan potensi WR yang akan menyambung jaringan sebanyak 13 ribu WR. Sedangkan kapasitas pipa jaringan yang saat ini tersedia bisa menampung 21 ribu WR. “Memang perlu waktu dan tidak ringan untuk menyadarkan masyarakat betapa pentingnya pengelolaan air limbah,” sambung Ika. Ditambahkan, sistem penarikan retribusi yang selama ini melalui door to door, agar lebih efektif juga akan diganti dengan melakukan kerjasama dengan wilayah setempat, seperti PKK, RT/RW atau Karang Taruna. (Ret) |
| Cetak Berita | |
| Kirim ke teman |
![]()
Dari Gatra (http://gatra.com/artikel.php?id=113279)
Jakarta, 24 Maret 2008 15:08
Produksi sampah di DKI Jakarta mencapai enam ribu ton per hari, atau setara dengan sekitar 27 ribu meter kubik per hari. Diprediksikan akan terus meningkat..
“Sampah yang dihasilkan warga Jakarta adalah sekitar enam ribu ton per hari. Bisa dibayangkan bahwa akan muncul `gunung-gunung` kecil di TPA (Tempat Pembuangan Akhir) setiap harinya,” kata Endang Wahyuning dari Dinas Kebersihan DKI dalam seminar “Pengelolaan Sampah Partisipatif sebagai Alternatif Penyelamatan Bumi” di Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta, Senin (24/3).
Menurut Endang, persoalan sampah di Jakarta disebabkan antara lain volume sampah yang sangat tinggi yaitu 27 ribu meter kubik per hari, serta ditambah dengan kesadaran masyarakat yang terasa masih kurang dalam permasalahan tersebut.
Volume sampah tersebut diprediksikan akan terus melonjak dengan tingkat kenaikan sekitar lima persen per tahun.
Sedangkan berdasarkan data Dinas Kebersihan DKI, jumlah sampah yang terangkut pada tahun 2007 adalah 85 persen dari total timbunan sampah akibat dari kurangnya jumlah armada atau kendaraan pengangkut sampah. Sekitar 40 persen dari armada tersebut, kondisinya sudah tidak laik jalan.
“Untuk dapat mereduksi volume timbunan sampah, dilakukan program 3R (Re-use, reduce, recycle), namun peran serta masyarakat dalam pengelolaan sampah dari sumber melalui program 3R itu masih terasa kurang,” katanya.
Berbagai program unggulan Dinas Kebersihan DKI dalam melaksanakan program 3R antara lain adalah melalui kader PKK, siswa sekolah, mahasiswa perguruan tinggi, hingga para penghuni Lapas (lembaga pemasyarakatan).
Untuk mengatasi persoalan sampah, Endang mengimbau kepada warga masyarakat agar sampah selayaknya jangan dijadikan sebagai musuh tetapi sebagai sahabat karena sampah organik bisa dijadikan pupuk kompos dan sampah anorganik bisa dikelola menjadi beraneka ragam benda kerajinan.
Sementara itu, pembicara lainnya Ketua Koalisi LSM untuk Persampahan Nasional, Bagong Suyoto, memaparkan, sumber sampah terbesar adalah dari kawasan pemukiman (52 persen), yang diikuti oleh daerah perkantoran (27 persen), dan kawasan industri (8 persen).
Sedangkan berdasarkan komposisinya, sampah DKI Jakarta terdiri dari 55 persen sampah organik dan sisanya merupakan sampah anorganik yang didominasi kertas dan plastik. [TMA, Ant]
Menurut bapak Toto, sistem pendidikan di Jerman sudah bisa membikin orang tahu besok mau jadi apa. Anak SD sekolah bersama sampai kelas 4, setelah itu mereka akan masuk Gymnasium, realschule atau hauptschule. Gymnasium ini untuk anak2 yang besok bisa masuk universitas, sedang dua lainnya untuk anak yang masuk stm atau sekolah kejuruan. Biasanya umur 16-17 mereka sudah harus ikut pendidikan. Kalau yang besok jadi koki ya akan magang di restoran, kalau yang jadi kasir ya magang di supermarket, yang jadi guru juga magang di sekolah. Tentu saja magangnya sudah dibayar dengan bayaran yang layak.
Ide utamanya, setiap anak atau orang mempunyai kemampuan otak yang berbeda-beda, jadi harus diarahkan ke arah yang berbeda pula, tidak perlu dipaksa. Kalau di Indonesia khan tidak, semua anak harus masuk SMA lalu dipaksa untuk masuk kuliah…padahal tidak ada kemampuan. Makanya ada banyak siswa yang tak lulus UNAS, lha wong memang tidak pinter bahasa inggris dan matematika kok dipaksa sekolah….lebih baik dikasih bekal ketrampilan saja, tidak buang2 waktu dan uang.
Ada kisah anak tukang kebun di kampus bapak Toto: dia punya anak lulusan SMA, terus dipaksa kuliah…akhirnya nggak lulus2 malah pilih bantu bapaknya bikin teh….eman2 dhuwite.
Howhg!
Sebuah artikel yang menarik dari sebuah tabloid hiburan. Tentang manajemen sampah. Bila semua orang sadar akan potensi dari sampah, baik yang buruk maupun yang bagus, tentunya masalah sampah di Indonesia lebih mudah teratasi.
Kursus Kompos:
PEMBELI RELA “INDEN” BERMINGGU-MINGGU
Banyak yang merasa mengelola sampah itu susah. Belajarlah di Kebun Karinda. Dari sampah rumah diolah menjadi kompos. Praktis dan tak menebar bau.
Pagi menjelang siang. Suasana di Kompleks perumahan Karang Tengah Indah, Jaksel begitu lengang. Hanya satu dua mobil di melintas di jalan yang “dipayungi ” pohonan nan lebat. Di pembatas jalan, tumbuh subur bunga Canna dengan aneka warna.
Kesibukan justru terlihat di salah satu sudut di Blok C-2, tepatnya di sebuah tanah kosong seluas sekitar 300 meter persegi. Tiga orang pria tampak menyiapkan sesuatu. Ada dua gunungan sampah kering dan basah dedaunan terhampar di atas terpal plastik warna biru. Di sisi “gunung” sampah itu berderet aneka ragam kotak setinggi satu meter dari yang buat dari bambu, kayu, susunan paving block dan sebagainya. Beberapa alat pertanian, mulai dari cangkul, gembor, dan sebagainya berserak di sana-sini.
Salah satu dari tiga pria yang sibuk itu adalah Djamaludin Suryohadikusumo. Anda merasa pernah mendengar namanya? Dialah mantan Menteri Kehutanan 1993 -1998. Sementara dua pria lainnya adalah Hendi dan Yanto, asistennya. Setelah semua persiapan beres, Djamaludin yang pagi itu mengenakan celana pendek dan bersepatu olahraga buru-buru pulang ke rumahnya yang berada di seberang jalan.
Sedang dua asisten Djamaludin usai menuntaskan pekerjaan kebun langsung menyiapkan alat-alat kantor. Dengan cekatan dua pria itu memasang kabel-kabel proyektor dan laptop keluaran terbaru. Perangkat sound mini pun selesai dicoba. Persiapan ini untuk menyambut belasan tamu yang hari itu, Rabu, 10 Januari 2006 datang untuk pelatihan pembuatan kompos di Kebun Karinda (Karang Tengah Indah). Kegiatan ini memang rutin digelar di tempat itu, minimal seminggu dua kali.
BERAWAL DARI TERAS RUMAH
Kebun Karinda yang awalnya merupakan kegiatan Komite Lingkungan di wilayah tersebut kini menjadi pusat pelatihan dan pembuatan kompos, baik kompos berbahan sampah dedaunan maupun sampah dari dapur. “Awalnya pelatihan ini dilakukan di rumah saya,” kata Sri Murniati Djamaludin, istri Djamaludin menimpali sang suami. Suami istri ini minimal seminggu dua kali menjadi instruktur pembuatan kompos.
Rupanya pelatihan yang mulanya dilakukan di teras ini juga diminati peserta dari luar kompleks. “Akhirnya ada yang menawarkan lahan untuk ditempati. Alhamdulillah, dengan lahan ini kegiatan kami makin berkembang,” jelas Ny. Niniek, panggilan Sri Murniati yang mulai menerima murid dari luar kompleks sejak setahun lalu. “Sekarang yang sudah ikut kursus seribu orang lebih,” akunya bangga.
Dalam workshop gratis selama sekitar 2-3 jam ini peserta akan diajari cara membuat kompos, baik dari sampah halaman (daun kering dan daun hijau) atau kompos limbah dapur (potongan sayur-mayur, kulit pisang, rambutan, dan sebagainya).
“Membuat kompos dari sampah halaman sebaiknya dalam volume besar,” jelas nenek 4 cucu ini. Karena volumenya besar, perlu wadah khusus yang tingginya minimal 1 meter. “Ini berdasarkan pengalaman saja. Kalau tingginya kurang dari itu, bahan-bahan agak susah terurai,” sela Djamaludin yang setelah pensiun aktif di 6 lembaga yang peduli lingkungan. Ada 4 macam meterial wadah yang sudah dicoba Djamaludin. Dari bambu, kayu, susunan paving block, dan bata. “Jadi masyarakat bisa memilih yang paling cocok.”
Sementara pembuatan kompos dari limbah dapur, menurut Niniek sangat praktis dan bisa dilakukan siapa saja. “Yang penting, sebelum memulai semua anggota keluarga membuat komitmen dulu. Semua harus dilibatkan mulai dari anak, ayah, ibu, sampai pembantu.”
Yang tak kalah penting, lanjut Niniek, keluarga juga harus memisahkan sampah dapur menjadi 2 bagian sampah organik dan anorganik. “Sampah yang bisa dipakai adalah sampah organik seperti potongan-potongan sayur yang tak layak dimasak, kulit buah yang lunak dan mudah hancur dan sebagainya,” papar Niniek.
Sebelum membuat kompos dari sampah dapur, disiapkan dulu wadahnya. Yang paling praktis adalah keranjang pakaian kotor (laundry basket) yang alasnya dilubangi 6 buah. Di bagian bawah dan atasnya “diselimuti” bantalan karung goni yang diisi sekam. “sampahnya hangat tapi tetap ada sirkulasi udara.” Di dua sisi wadah tersebut juga dilapisi kardus. Setelah itu baru diisi kompos atau starter 1/3 dari wadah tersebut.
Potongan bahan kompos dari dapur itu lalu dibenamkan ke dalam kompos agar proses penguraian terjadi.
“Lakukan kegiatan itu setiap hari. Proses pengomposan terjadi bila ada proses pemanasan dalam wadah tersebut,” tandas wanita lulusan Fakultas Farmasi UGM ini. Setelah wadah penuh, tunggu sampai 40 hari.
“Kompos pun siap dipanen. Ciri-cirinya, warna kompos hitam atau kecokelatan dan tak terlihat lagi bahan aslinya, tak berbau. Sebelum digunakan kompos diayak dulu. Hasil ayakan bisa untuk kompos dan yang kasar bisa digunakan untuk starter.”
Untuk menguji apakah kualitas kompos sangat gampang. “Masukkan saja ke air. Kompos yang baik, semua akan tenggelam dan air di atasnya jernih. Jika masih ada yang yang mengambang, berarti proses pengomposan belum selesai,” jelas Niniek yang berharap sepulang dari pelatihan “murid-muridnya” mau mempraktikkan ilmunya. “Untuk memacu mereka, beberapa setelah pelatihan saya sering telepon mereka. Sekadar bertanya apakah sudah mencoba atau belum. Kalau sudah mencoba apakah ada kendala atau tidak.”
Ada kemudahan proses pembuatan kompos yang diajarkan pasangan ini. Mereka tak pernah mematok perbandingan bahan (sampah kering dan basah) kompos secara pasti. “Tergantung bahan yang tersedia saja. Lebih banyak daun hijaunya bisa, begitu juga sebaliknya.”
Pasangan ini juga selalu memperlakukan kompos-kompos selayaknya manusia. Ini tak hanya tercermin dari istilah-istilah yang sering diucapkan saat pelatihan seperti, “menyelimuti” (menutup) sampah, “memberi makan” mikroba untuk mengganti menyiram dengan air dan sebagainya. “Bahkan Bapak sehari bisa menengok kompos bisa sampai tiga kali, lebih sering dibanding nengok cucu,” sambung Niniek sambil terkekeh.
Tak heran, Rano Karno, salah satu warga Karang Tengah Indah yang kerap datang ke pelatihan menyebut kompos produksi Karinda adalah kompos “kasih sayang”. “Karena dibuat berdasarkan kasih sayang. Bukan dengan hitungan yang rumit dan jelimet. Makanya produksi kompos Karinda selalu laris-manis. Bahkan belum jadi pun sudah dipesan orang,” jelas Rano.
INGIN PUNYA JEJARING LUAS
Kesibukan pasangan suami-istri menyebarkan ilmu membuat kompos semata-mata karena keprihatinan terhadap masalah sampah yang selalu menjadi problem di kota-kota besar. “Sampah sering menjadi penyebab berbagai masalah seperti banjir, sarang penyakit, bahkan pencemaran. Kami tergerak dengan program ini karena sama-sama peduli lingkungan,” kata Niniek yang sebelumnya berkarier di Departeman Kesehatan.
Awalnya kegiatan ini memang dilakukan Niniek dan tetangganya yang tergabung dalam Komite Lingkungan perumahan tempat ia tinggal. Kegiatan mereka makin maju setelah Djamaludin ikut membantu. Peran pria yang murah senyum ini lebih banyak ke pengembangan Kebun Karinda. “Ini, kan, lembaga nirlaba. Kami, kan, tak memungut biaya peserta kursus. Meski demikian, program ini jangan sampai membebani perorangan atau warga,” kata Djamaludin. Untuk mencari pemasukan, usai pelatihan pihaknya menjajakan aneka produk kebun Karinda, mulai dari kompos, bibit, sayur, dan tanaman.
Karena niatnya tak mencari untung, harga yang ditawarkan tergolong murah. Misalkan kompos yang di luar dijual Rp 5 ribu, di Karinda hanya Rp 2.500. Bibit sayur, bunga atau tanaman obat sebungkus hanya Rp 1.000. Paling mahal cabai korea berbuah lebat dilepas Rp 20 ribu. Hanya saja, dagangan itu tidak setiap saat tersedia. “Pemasukan itu sebagian besar untuk honor para asisten, sisanya untuk mengembangkan Karinda,” kata Djamaludin.
Dengan “murid” dari berbagai wilayah, pasangan ini berharap punya jejaring yang luas. “Setelah semuanya siap kami punya cita-cita membentuk organisasi masyarakat peduli sampah. Jadi penanganan sampah bisa dilakukan secara terpadu dan tak menimbulkan masalah, malah bisa mendatangkan berkah,” tandas Djamaludin.
SUMBER: TABLOID NOVA No. 993 Thn. XVIII
Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!